fbpx
Skip to toolbar

Ternyata Ini Penyebab Data Pribadi Nasabah Bocor

FINTEKASIA – Hai sobat FintekAsia! Bareskrim Polri berhasil membongkar adanya sindikat penjualan data nasabah. Terungkapnya kasus ini tentunya membuat masyarakat khawatir karena penjualan data nasabah menyangkut data pribadi. Atas peristiwa tersebut, perbankan dituding telah menyebarkan kerahasiaan data pribadi nasabahnya.

Sekretaris PT Bank Mandiri Tbk, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa selama ini justru perbankan telah menjadi korban atas kasus tersebut. Menurutnya, kebocoran data nasabah dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah terlalu sering melakukan transaksi online.

“Iya, kita (Bank Mandiri) sama nasabah sebagai korban, orang pikir data itu pasti dari bank. Karena yang punya data adalah bank. Di zaman elektronik sekarang magnetik card kita bisa dibaca tuh, termasuk kita sendiri belanja online.”, ujar Rohan, dalam acara media Gathering di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rohan melanjutkan, saat ini yang perlu ditekankan adalah tingkat keamanan, mengingat penjualan e-commerce semakin marak. Sebab, dengan belanja online, nasabah dengan mudah memberikan data pribadinya.

Apalagi jika belanja online menggunakan fasilitas Wi-Fi publik, data pribadi dapat dengan mudah diakses oleh hacker.

“Sekarang marak jual beli online kan pada daftarin nomor kartunya kalau bayar itu masukin tiga digit di belakang. Siapa yang mengatur keamanan di online shop-nya? Belum ada. Kalau bank kan very regulated, itu ada OJK-nya, ada Bank Indonesia-nya, ketahuan dari itu.”, katanya.

Rohan menuturkan, faktor lainnya ialah penggunaan kartu kredit saat melakukan transaksi di mesin EDC. Kata dia, selama ini masyarakat tidak sadar saat melakukan transaksi. Sebab, hal itu justru data pribadi rawan untuk diduplikasi.

Menurutnya, hal yang membuat data mudah diduplikasi saat masyarakat melakukan double swipe. Masyarakat sebaiknya berhati-hati ketika melakukan swipe kedua kalinya di keyboard komputer maupun mesin cash register kasir.

“Nasabah banyak yang enggak tahu konsumen termasuk kalian semua. Suka belanja di mall, di toko, swipe dua kali bayar kan pake kartu EDC? Normal, setelah itu kan kasirnya swipe di keyboard, enggak boleh. Jangan mau yang di mesin kasir itu. Kan rekam data di sini (kartu) jadi cukup di EDC. EDC kan langsung ke bank.”, jelas Rohan.

Adapun di Indonesia, ,departemen store banyak melakukan transaksi seperti itu. Karena kurang sosialisasi, sehingga menyebabkan banyak yang tidak mengerti.

Rohan menambahkan, di luar negeri sistem swipe di keyboard merupakan salah satu pengganti EDC, sehingga secara otomatis sudah terhubung dengan perbankan.

“Kalau di luar negeri keyboard itu memang pengganti EDC, sudah onlinenya ke bank, di sini belum. Jadi mesin itu teregister zaman sekarang sudah disediakan online bank di negara maju. Kita masih berdiri sendiri, kita ada mesin EDC di sampingnya.”, tegasnya.

Rohan berharap agar regulator bisa memberikan edukasi terkait pentingnya menjaga data pribadi. Sebab, data pribadi rawan untuk diperjualbelikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Sebetulnya konsumen juga regulator sebaiknya mengedukasi lebih apa yang saya sampaikan masih awam, padahal kan sudah kehidupan sehari-hari kita semua.”, tutupnya.

*

Yuk, pakai fitur belanja online canggih MasterPro dari KasPro! Caranya simple banget, cukup ikuti langkah-langkah di sini. Jangan lupa download aplikasi KasPro di App Store dan Play Store!

MasterPro

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

FIntekAsia
Logo
Enable registration in settings - general